Data disembunyikan saat Anda beralih dari aplikasi atau pintasan tangkapan layar terdeteksi.
Pastikan hanya pihak yang berwenang dapat melihat layar Anda.
Pedoman Penetapan Nilai Perolehan Air Tanah
Teks hasil ekstraksi belum selesai diverifikasi. Periksa dokumen sumber untuk memastikan bunyi ketentuan dan status berlakunya.
Buka sumber resmiTabel dan formulir hasil ekstraksi dapat kehilangan tata letak. Periksa PDF sumber sebelum menggunakannya.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2024 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN NILAI PEROLEHAN AIR TANAH. KOMPONEN PENENTUAN NPA, SERTA FORMULA DAN CONTOH PENGHITUNGAN NPA. A. Komponen Penentuan NPA. 1. Komponen Sumber Daya Alam. Tabel 1. Penghitungan Bobot secara Eksponensial dari Nilai Peringkat. Kolom: No. | Kriteria | Peringkat | Bobot. 1. | Air Tanah kualitas baik, ada Sumber Air alternatif | 4 | 16. 2. | Air Tanah kualitas baik, tidak ada Sumber Air alternatif | 3 | 9. 3. | Air Tanah kualitas tidak baik, ada Sumber Air alternatif | 2 | 4. 4. | Air Tanah kualitas tidak baik, tidak ada Sumber Air alternatif | 1 | 1. 2. Komponen Peruntukan dan Pengelolaan. Tabel 2. Nilai Berdasarkan kelompok Volume Pengambilan dan Peruntukan yang Dihitung secara Progresif. Kolom: No. | Peruntukan | Volume Pengambilan 0–50 m³ | >50–500 m³ | >500–1000 m³ | >1000–2500 m³ | >2500 m³. 1. | kelompok 5 | 1 | 1.5 | 2.25 | 3.38 | 5.06. 2. | kelompok 4 | 3 | 4.5 | 6.75 | 10.13 | 15.19. 3. | kelompok 3 | 5 | 7.5 | 11.25 | 16.88 | 25.31. 4. | kelompok 2 | 7 | 10.5 | 15.75 | 23.63 | 35.44. 5. | kelompok 1 | 9 | 13.5 | 20.25 | 30.38 | 45.56. B. Formula. 1. Rumus Penghitungan NPA. NPA = HAB x BAT. 2. Rumus Penghitungan HAB. HAB = BPH + BPL. 3. Rumus Penghitungan BPH. BPH = (Biaya Pembangunan dan Pemeliharaan Sumur Imbuhan) / (Volume Pengambilan Selama Umur Produksi). 4. Rumus Penghitungan BPL. BPL = (Biaya Pembangunan, Operasional, dan Pemeliharaan Sumur Pantau) / (Volume Pengambilan Selama Umur Produksi). 5. Rumus Penghitungan BAT. BAT = 60% S + 40% P. C. Simulasi Penghitungan NPA. 1. Penghitungan NPA. Rumus: NPA = HAB x BAT. 2. Penghitungan HAB. Misalnya di suatu daerah untuk menjaga kondisi sumber daya Air Tanah maka diperlukan pembangunan dan pemeliharaan sumur imbuhan sebagai bagian dari upaya pemeliharaan serta Pembangunan, operasional, dan pemeliharaan sumur pantau Air Tanah untuk memantau kondisi air tanah sebagai salah satu alat untuk pengendalian penggunaan Air Tanah. Penghitungan HAB dilakukan dengan rumus: HAB = BPH + BPL. a. Penghitungan BPH. Biaya pembangunan sumur imbuhan kedalaman 125 m: Rp100.000.000,00. Biaya pemeliharaan selama 5 tahun: Rp100.000.000,00. Biaya pembangunan dan pemeliharaan sumur imbuhan: Rp200.000.000,00. Sumur imbuhan tersebut digunakan untuk memelihara sumber daya Air Tanah di sekitar sumur produksi dengan umur produksi sumur bor tersebut dimisalkan 5 tahun, dengan debit sumur 100 m³/hari, sehingga Volume Pengambilan selama umur produksi (5 tahun) = (5 × 365) hari × 100 m³ = 182.500 m³. Sehingga: BPH = Rp 200.000.000 / 182.500 m³ = Rp 1.096/m³. b. Penghitungan BPL. Biaya pembangunan sumur pantau Air Tanah kedalaman 125 m: Rp 150.000.000,00. Biaya operasional sumur pantau selama umur operasional (5 tahun): Rp 12.000.000,00. Jumlah Biaya Pemeliharaan sumur pantau: Rp 40.000.000,00. Biaya pembangunan, operasional, dan pemeliharaan sumur pantau: Rp 202.000.000,00. Sumur pantau Air Tanah digunakan untuk memantau kondisi Air Tanah untuk kepentingan pengendalian pendayagunaan Air Tanah di sekitar sumur bor produksi dengan umur produksi sumur bor tersebut dimisalkan 5 tahun dan debit sumur 100 m³/hari, sehingga Volume Pengambilan selama umur produksi (5 tahun) = (5 × 365) hari × 100 m³ = 182.500 m³. Sehingga: BPL = Rp 202.000.000 / 182.500 m³ = Rp 1.107/m³. Sesuai dengan rumus di atas maka: HAB = BPH + BPL = Rp 1.096/m3 + Rp 1.107/m3 = Rp 2.203/m³. 3. Penghitungan BAT. a. Simulasi dengan menggunakan nilai HAB hasil perhitungan pada contoh 1, penetapan NPA untuk pengguna Air Tanah kelompok 4 dengan kriteria: 1) Air Tanah kualitas baik; dan 2) Ada sumber Air alternatif, maka penetapan NPA dilakukan sebagai berikut: Kolom: Volume Pengambilan (m³) | Komponen Sumber Daya Alam | Komponen Peruntukan dan Pengelolaan | BAT | HAB (Rp/m³) | NPA (HAB × BAT) (Rp/m³). 0–50 | 16 × 60% = 9,6 | 3 × 40% = 1,20 | 10,80 | 2.203 | 23.790. >50–500 | 16 × 60% = 9,6 | 4,5 × 40% = 1,80 | 11,40 | 2.203 | 25.111. >500–1000 | 16 × 60% = 9,6 | 6,75 × 40% = 2,70 | 12,30 | 2.203 | 27.094. >1000–2500 | 16 × 60% = 9,6 | 10,13 × 40% = 4,05 | 13,65 | 2.203 | 30.072. >2500 | 16 × 60% = 9,6 | 15,19 × 40% = 6,08 | 15,68 | 2.203 | 34.530. b. Simulasi dengan menggunakan nilai HAB hasil perhitungan pada contoh 1, penetapan NPA untuk pengguna Air Tanah kelompok 1 dengan kriteria: 1) Air Tanah kualitas baik; dan 2) Ada sumber Air alternatif, maka penetapan NPA dilakukan sebagai berikut: Kolom: Volume Pengambilan (m³) | Komponen Sumber Daya Alam | Komponen Peruntukan dan Pengelolaan | BAT | HAB (Rp/m³) | NPA (HAB × BAT) (Rp/m³). 0–50 | 16 × 60% = 9,6 | 9 × 40% = 3,60 | 13,20 | 2.203 | 29.076. >50–500 | 16 × 60% = 9,6 | 13,5 × 40% = 5,40 | 15,00 | 2.203 | 33.041. >500–1000 | 16 × 60% = 9,6 | 20,25 × 40% = 8,10 | 17,70 | 2.203 | 38.988. >1000–2500 | 16 × 60% = 9,6 | 30,38 × 40% = 12,15 | 21,75 | 2.203 | 47.914. >2500 | 16 × 60% = 9,6 | 45,56 × 40% = 18,22 | 27,82 | 2.203 | 61.289. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA, ttd. ARIFIN TASRIF.